Minggu, 03 November 2013

Polemik Skripsi bagi Mahasiswa

Skripsi. Satu kata yang bahkan menjadi syndrom malas bagi mahasiswa itu masih melekat kuat. padahal pada hakikatnya, skripsi itu sama hal nya dengan karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa dalam menempuh suatu mata kuliah. Sebelum kita membahas polemik skripsi ini, sebelumnya akan dibahas mengenai perbedaan antara karya ilmiah dan skripsi itu. Kita mulai dari karya ilmiah, bahwa yang dimaksud karya ilmiah adalah suatu karangan yang berdasarkan penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah. Sedangkan skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta- fakta empiris-objektif baik berdasarkan penelitian langsung (observasi lapangan ) maupun penelitian tidak langsung (study kepustakaan). 
jika dilihat dari kedua pengertian tersebut, dapat disimpulkan jika skripsi merupakan bagian dari karya tulis ilmiah, yang secara otomatis sudah kita pelajari bahkan hafal diluar kepala bagaimana menyusun karya tulis ilmiah tersebut. 
jika sudah mengerti apa itu skripsi, mengapa skripsi sampai sekarang masih menjadi polemik mahasiswa dalam menyelesaikan gelar S1 nya?
ada beberapa kendala yang membuat mahasiswa kerap malas mengerjakan sripsi, diantaranya: 

1. nggak ada persiapan lahir dan batin
wah, ini nih yang bakalan jadi penghambat abadi, kata-kata 'aku belum siap' 'belum ada pikiran' 'hatiku belum mantep' itulah yang menjadi syaitan betah lama-lama tinggal di hatimu. kalau semester depan kamu mau buat skripsi, kamu harus sudah persiapin dari semester sebelumnya, dari  tingkat awal mungkin lebih baik, apa yang mesti dipersiapin?? jurnal-jurnal dan mental!! searching sebanyak-banyaknya jurnal yang bagus terutama cari yang tidak inkonsistensi karrena hal itu akan memperlancar membuat latar belakang. kalau kurang persiapan (seperti saya) pas masuk awal semester kamu malah sibuk cari jurnal, padahal harusnya kamu sudah siap dengan latar belakang. selain mempersiapkan materi dan jurnal, kamu juga harus mempersiapkan mental. karena menta inilah yang menjadi ruh dalam menjalankan sripsi. tanpa mental yang kuat, skripsimu gak jalan-jalan deh... 
2. bingung topik, yang imbasnya bingung nentuin judul
memilih topik yang kamu kuasai, atau gak kalau kamu sudah dapat jurnal yang inkonsistensi, mending jurnal itu yang dijadiin referensi. dan judul kamu gak jauh-jauh dari judul jurnal tersebut. dan satu hal yang bikin skirpsi gak kelar atau kelarnya lama, tentu saja suka ganti-ganti judul. kamu sudah dapat jurnal yang inkonsistensi tapi kemudian kamu menemukan jurnal yang bagus terus kamu putusin mau pilih jurnal itu, haduuuh gak bener itu. konsisten lah sama apa yang kamu ambil. 
setelah dapet topik yang 'pas di hati' langkah selanjutnya adalah tentukanlah nama yang baik untuk skripsimu..
3. dosen pembimbing
ini salah satu hal yang fatal yang membuat skripsi gak kelar-kelar. mungkin kita punya hak untuk memilih dosen yang kita mau tapi yang memilihkan adalah kajurnya, kalau hal ini untung-untungan. dan apesnya kalau kamu dapat dospem yang gak peduli, gak tepat waktu, gak ngarahin kamu harus ngapain, yang santai bahkan terlalu santai, gak nargetin pertemuan ke berapa harus sampai mana, gak masuk-masuk kuliah, gak ngebantu, dosen pembimbing yang terlalu sibuk, dan masih banyak lagi deh..
4. sifat sang putri -pemalu-
sifat ini juga akan menjadi batu sandungan skripsi kamu, kamu tuh sudah gede, jadi sedikit-sedikit kalau perlu sekalian banyak berubahlah jangan jadi pemalu, karena kalau kamu pemalu gimana mau nemuin dosen pembimbing, bertanya ini itu sama dosen pembimbing, cari sekolah, cari perpustakaan, semua itu perlu keberanian. kan udah ada pepatahnya 'malu bertanya sesat dijalan', tapi jangan kebalikannya ya ' banyak bertanya gak jalan-jalan' haha...
5.buku buat refrensi plus dapusnya
gak afdol kayanya kalau ngerjain skripsi gak baca buku, kalau pengen skripsi kamu lebih baik yang baca-bacalah buku, perpus tempat kuliah kamu kekurangan buku, bukunya gak lengkap? cari di perpustakaan universitas lain! ini nih susahnya apalagi kalau pemalu, :( untuk mempermudah setiap kamu ambil pengertian atau apalah dari buku itu kamu juga harus menulis daftar pustakanya. gak lucu kan kamu mengambil pengertian dari buku itu eh gak nulis daftar pustakanya. lah terus gimana nanti ngisi daftar pustakanya apalagi kalau bukunya dari perpus universitas lain, repoot  mesti balik lagi. untuk poin refrensi ini, kuncinya adalah, setiap kamu ngutip dari salah satu buku, segera tulis juga di daftar pustaka, biar gak dikira plagiat cuy..  
6. punya pacar yang rewel
ini nih penghambat nomor selanjutnya yang bisa bikin skripsi kamu 'mandeg' alias macet di tengah jalan. punya pacar sih fine-fine aja ya, tapi kalo pcarnya rewel setengah mati? nah lo, ya mau gak mau harus bagi waktu dong antara skripsi dan si 'bawel'. padahal skripsi itu butuh yang namnaya konsentrasi tingkat tinggi, nah jalan satu-satunya adalah milih salah satu, pacar atau skripsi, atau cari pacar baru yang pengertian 100%. hehe..
7.sifat syaiton -malas-
susah deh kalau udah punya kebiasaan malas kaya gini, seperti saya bukannya ngerjain skripsi malah cuap-cuap disindang haha. membuat skripsi itu kadang suka bikin malaaaas banget, buat nyentuhnya aja ogah gimana mau ngerjain, jadi hilangkan sifat ini, inget sama orang tua kamu yang pengen ngelihat anaknya sarjana!! orang tua kamu sudah cape-cape cari biaya tapi kamu malas? hemmm ini saatnya bikin orang tuamu bangga! kalau perlu pasang foto kedua orang tuamu di laptop jadi tiap malas, kamu ingat perjuangan orang tuamu. tunjukkan kalo kamu juga bisa lulus sesuai target mereka. Biar gantian adek kamu yang kuliah -hehe...
8. menduakan bahkan mengempat belaskan internet
hari gini, pastinya semua anak muda punya yang namanya jejaring sosial, ehmm kamu pengguna facebook? twitter? kayanya kalau pas buka laptop dan connect ke internet rasanya gak tahan banget buat gak buka sosial media itu. duuh mending jangan dulu buka deh, FOKUS skripsi. kalau buka sosial media gitu malah keasyikan dan akhirnya skripsinya gak dikerjain. sekarang juga 'tutupen' sambenanmu (sosial media).. #oplosan kali... hehe
9. punya target
nah ini ni hal yang bikin sifat2 syaiton keluar dari tubuhmy, yaitu kamu harus punya target setiap harinya! misalnya seminggu ini haru selesai bab 1 dan 2. minggu berikutnya fokus cari sekolah dan perpustakaan, trus minggu berikutnya konsul, trus minggu berikutnya dll.. pasti skripsi kamu dalam waktu 6 bulan bakal selesai deh. apalagi terget setelah lulus mau nikah, wah pasti gak sabar nih buat segera resepsi pernikahan. haha... eiitszzz.... tapi kalau kamu target skripsinya tahun depan siiih itu beda cerita, huahahaha
10. do'a
ini nih unsur spiritualnya. pernah denger 'dimana ada kemauan, disitu ada jalan' lha pesan itu gak bakal bisa terwujud deh tanpa adanya bantuan dari sang pencipta. tanpa kita pungkiri, kita kan mahluk Tuhan, mahluk yang beragama. ya to? maka dari itu minta lah doa sama orang tua kamu, doa orang tua itu manjur apalagi ibu. tapi kamu juga harus berdoa, minta didoain sama orang tapi kamu sendiri malas berdoa? sama aja zonx donk..

11. fokus ke hal yang lain
ehemm buat kamu yang kuliah sambil memikirkan hal lain, misalnya kerja, hal ini bisa jadi batu sandungan ada juga yang sukses skripsinya, pintar-pintar bagi waktulah, kamu kerja buat apa? buat kuliah? terus kalau kuliahnya lama karena skripsinya gak kelar-kelar, kamu cuma buang-buang duit, kapan dong bisa nabung buat masa depan? kapan dong mau melangsungkan pernikahan dengan pujaan hati? ciatt ciatt ciatt ciatt...

12. terlalu mencintai kampus
inilah yang disebut sebagai jawara mahasiswa abadi. kalo dijadiin kontes, bakalan seru nih. haha ada loh yang bilang mending lama jadi mahasiswa daripada sarjana jadi penggangguran, karena mahasiswa titelnya lebih terhormat dibanding pengangguran. itu sebenernya pemikiran yang salah kaprah dan salah total. karena sarjana yang mai mampu menciptakan lapangan pekerjaan titelnya lebih terhormat daripada mahasiswa abadi yang hanya bisa menghabiskan uang tanpa ada hasil. bingung mau buka lapangan kerja apa? eee... gak usah bingung, kan dimana ada kemauan disitu ada jalan. misalnya nih ya, buka counter pulsa, buat pabrik hand made kecil-kecilan, atau bisa budidaya jamur, atau yang lainnya. yang penting kuncinya GAK BOLEH MALU UNTUK MENCOBA. okey...

13. jurusan mempersulit
ya.. inilah yang merupakan kendala utama mahasiswa dalam menulis skripsi. yaitu jurusan yang mempersulit, baik dari dosen pembimbing, format pembuatan skripsi, konsultasi, ujian pendadaran, sampai ujian tambahan untuk menyongsong wisuda. kalau kita sebagai mahasiswa yang udah niat 100% nulis skripsi, dan tiba-tiba ada syarat dari jurusan ada ujian kelulusan selain ujian pendadaran, jelas syok banget dahh...
 walaupun bagaimanapun juga itu merupakan kebijakan 'yang memberatkan mahasiswa' tetap harus dilaksanakan oleh yang bersangkutan. solusinya ya berdo'a dengan kusyuk guys... berusaha tanpa akhir, dan jangan mudah menyerah. oke guys.. ;)

saya pikir cukup sekian ya guys..
pokoknya jangan menganggap skripsi sebagai hal yang WAAUUUU banget, tapi anggaplah skripsi sebagai tugas yang harus diselesaikan sebelum selesai semester 8.
dimana kemauan, disitu ada jalan lho guys.. SEMANGAT ya... :)

pendidikan formal vs pendidikan non formal



Seperti yang kita tahu, bahwa pendidikan sangatlah penting. Pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal-hal terkecil hingga hal-hal yang terbesar yang normalnya akan dilewati oleh setiap manusia. Selain menjadi gerbang menuju kehidupan yang lebih baik, pendidikan juga merupakan bekal untuk mengaejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam kehidupannya sehingga tanpa pendidikan, maka logikanya semua yang diimpikannya akan menjadi  sulit untuk diwujudkan dan diraih.
Namun faktanya, memang tidak semua orang yang berpendidikan sukses dalam perjalanan hidupnya, tetapi jika dilakukan perbandingan maka orang yang berpendidikan jauh lebih banyak bisa mengecap kesuksesan daripada orang yang tidak pernah mengecapp pendidkan, baik pendidikan formal maupun informal. Jika orang yang sudah dibekali ilmu saja terbukti masih ada atau bahkan banyak yang mengalami kegagalan, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dibekali ilmu samasekali? Logikanya sudah pasti mereka akan sulit dalam mengembangkan hal-hal yang diminatinya dengan tujuan untuk mendapatkan level kehidupan yang lebih baik.
Melihat fenomena yang demikian, maka pemerintah pun selalu ingin meningkatkan kualitas pendidikan warga negaranya. Kualitas pendidikan sangat penting bagi generasi muda, karena generasi muda lah yang akan memimpin negeri ini kedepannya.  Bila generasi muda tidak mendapatkan kualitas pendidikan yang memadai, maka kita akan tertinggal dari bangsa lain.  Dalam tataran individu, tentu fungsi pendidikan sangat jelas, dengan mendapatkan pendidikan yang cukup kita bisa mendapat masa depan yang lebih baik. Dalam tingkat tertentu, pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mencari pekerjaan. Hal ini benar adanya karena pendidikan memang  tidak hanya di tujukan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pendidikan juga mengasah kemampuan dan keterampilan kita dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya dengan cara yang tepat.
Pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan formal dan non formal. Keduanya sangat penting. Alangkah baiknya jika seseorang yang mempunyai kemampuan akademi yang bagus juga diimbangi dengan pergaulan dan pendidikan informal yang memadai, tentunya kan menjadi pribadi yang istimewa dan bisa diandalkan. namun pada kenyataannya, kebanyakan masyarakat indonesia lebih mementingkan pendidikan formal daripada pendidikan non formal. bagi mereka, pendidikan non formal hanyalah suplemen yang melengkapi pendidikan formal saja. padahal jika dilihat lebih jauh lagi, pendidikan non formal tersebut juga sangat penting untuk pendidikan anak, karena anak tidak akan mendapatkan pendidikan non formal secara lebih gamblang dan mendetail di lingkup sekolah (pendidikan formal).

Sabtu, 02 November 2013

ngelmu iku kalakone kanti laku

Ilmu merupakan suatu bidang yang bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu.
Ilmu akan selalu dicari manusia baik ilmu yang muncul dari ciptaan manusia, yaitu ilmu lahir. Ilmu lahir yaitu mengenai semua hal yang berguna untuk kebutuhan lahiriyah yang ada di dunia ini dan belum bisa untuk memenuhi kebutuhan batin seperti ketentraman dan kemuliaan bati. Dan satu lagi ilmu batin yaitu ilmu yang berhubungan dengan batin, dengan melaksanakan ajaran agama yang diyakini dan dianut atau disebut ilmu kenyataan yang mendasarkan pada Allahan, asal sungguh-sungguh dalam malaksanakan akan mendapatkan untuk bekal hidup baik lahir maupun batin.
Sebagai dasar pijakan untuk membicarakan tentang “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” akan ditampilkan cuplikan dari “Serat Wedhatama” karya dari KGPAA Mangkunegaran IV, pada “tembang pucung” yang isinya sebagai berikut :
Pucung
Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani,
setyo budya pangekesing dur angkara.
Terjemahan : Ilmu itu terwujud dengan laku, dimulai dengan kemauan, dan kemauan untuk membuat sentosa, budi yang setia penghancur nafsu angkara.
Dengan memperhatikan cuplikan “tembang” tersebut bisa ditelaah bahwa ilmu merupakan salah satu sarana untuk bisa menjauhkan / menghindari hal yang tidak tahu menjadi tahu karena ilmu. Ngelmu/ilmu dan laku merupakan sesuatu rangkaian yang mutlak. Laku dalam hal ini selalu berusaha, sungguh-sungguh untuk memahami ilmu tersebut. Oleh karena itu orang akan merasa tercapai keinginannya harus tahu tentang ilmunya,tanpa tahu bisa dipastikan akan sengsara dalam kehidupannya.
Kalau berbicara ilmu dengan pasti tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan, karena proses pendidikan merupakan upaya sadar manusia yang tidak pernah ada hentinya. Sebab jika manusia berhenti melakukan pendidikan sulit dibayangkan apa yang akan terjadi pada sistem peradaban dan budayanya. Sejak jaman batu sampai jaman modern, seperti saat ini, proses pendidikan manusia tetap berjalan meskipun tidak harus terjadi dalam bentuk yang formal tapi bisa kapanpun, suatu bangsa akhirnya membangun sebuah sistem pendidikan bagi bangsa itu sendiri.
Sistem pendidikan yang dibangun itu akhirnya perlu disesuaikan dengan tuntutan zamannya agar pendidikan dapat menghasilkan out come yang relevan dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu sistem dan praktis pendidikan kita juga harus relevan dengan tuntutan kualitas global. Kita sebagai bangsa telah juga memiliki sebuah sistem pendidikan yang jelas-jelas akan memperkokoh kondisi suatu bangsa. Persoalannya sekarang ialah apakah sistem pendidikan yang ada saat ini efektif untuk mendidik bangsa menjadi bangsa yang modern, mempunyai kemampuan daya saing yang tinggi ditengah-tengah bangsa lain? Jawabannya tentu saja belum berbicara kemampuan kita sebagai bangsa, nampaknya kita belum siap benar menghadapi persaingan global abad 21.
Adanya proses globalisasi di semua sisi kehidupan manusia tidak akan pernah ada satupun kekuatan yang mampu mencegahnya. Hanya bangsa yang sadar budaya yang masih punya filter untuk menyaring pengaruh globalisasi yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Bangsa Indonesia punya dua sistem budaya yang sama-sama perlu dipelihara dan dikembangkan. Yaitu sistem budaya Nasional Indonesia dan sistem budaya etnik lokal. Budaya etnik lokal seringkali berfungsi sebagai sumber atau acuan penciptaan-penciptaan baru. Adanya kearifan-kearifan lokal yang membuat suatu budaya bangsa memiliki akar. Motifasi menggali kearifan lokal sebagai isu sentral secara umum adalah untuk mencari dan akhirnya jika dikehedaki menetapkan identitas bangsa yang mungkin hilang karena proses alkuturisasi dan transformasi yang telah, sedang dan akan terus terjadi sebagai sesuatu yang tak terelakan. Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara intern lewat pendidikan dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi budaya bangsa “yang lain”. Kearifan lokal yang seperti apakah yang bisa diterapkan dalam membangun pendidikan Indonesia? Inilah salah satu masalah yang harus dihadapi dunia pendidikan kita.