Sabtu, 02 November 2013

ngelmu iku kalakone kanti laku

Ilmu merupakan suatu bidang yang bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu.
Ilmu akan selalu dicari manusia baik ilmu yang muncul dari ciptaan manusia, yaitu ilmu lahir. Ilmu lahir yaitu mengenai semua hal yang berguna untuk kebutuhan lahiriyah yang ada di dunia ini dan belum bisa untuk memenuhi kebutuhan batin seperti ketentraman dan kemuliaan bati. Dan satu lagi ilmu batin yaitu ilmu yang berhubungan dengan batin, dengan melaksanakan ajaran agama yang diyakini dan dianut atau disebut ilmu kenyataan yang mendasarkan pada Allahan, asal sungguh-sungguh dalam malaksanakan akan mendapatkan untuk bekal hidup baik lahir maupun batin.
Sebagai dasar pijakan untuk membicarakan tentang “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” akan ditampilkan cuplikan dari “Serat Wedhatama” karya dari KGPAA Mangkunegaran IV, pada “tembang pucung” yang isinya sebagai berikut :
Pucung
Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani,
setyo budya pangekesing dur angkara.
Terjemahan : Ilmu itu terwujud dengan laku, dimulai dengan kemauan, dan kemauan untuk membuat sentosa, budi yang setia penghancur nafsu angkara.
Dengan memperhatikan cuplikan “tembang” tersebut bisa ditelaah bahwa ilmu merupakan salah satu sarana untuk bisa menjauhkan / menghindari hal yang tidak tahu menjadi tahu karena ilmu. Ngelmu/ilmu dan laku merupakan sesuatu rangkaian yang mutlak. Laku dalam hal ini selalu berusaha, sungguh-sungguh untuk memahami ilmu tersebut. Oleh karena itu orang akan merasa tercapai keinginannya harus tahu tentang ilmunya,tanpa tahu bisa dipastikan akan sengsara dalam kehidupannya.
Kalau berbicara ilmu dengan pasti tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan, karena proses pendidikan merupakan upaya sadar manusia yang tidak pernah ada hentinya. Sebab jika manusia berhenti melakukan pendidikan sulit dibayangkan apa yang akan terjadi pada sistem peradaban dan budayanya. Sejak jaman batu sampai jaman modern, seperti saat ini, proses pendidikan manusia tetap berjalan meskipun tidak harus terjadi dalam bentuk yang formal tapi bisa kapanpun, suatu bangsa akhirnya membangun sebuah sistem pendidikan bagi bangsa itu sendiri.
Sistem pendidikan yang dibangun itu akhirnya perlu disesuaikan dengan tuntutan zamannya agar pendidikan dapat menghasilkan out come yang relevan dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu sistem dan praktis pendidikan kita juga harus relevan dengan tuntutan kualitas global. Kita sebagai bangsa telah juga memiliki sebuah sistem pendidikan yang jelas-jelas akan memperkokoh kondisi suatu bangsa. Persoalannya sekarang ialah apakah sistem pendidikan yang ada saat ini efektif untuk mendidik bangsa menjadi bangsa yang modern, mempunyai kemampuan daya saing yang tinggi ditengah-tengah bangsa lain? Jawabannya tentu saja belum berbicara kemampuan kita sebagai bangsa, nampaknya kita belum siap benar menghadapi persaingan global abad 21.
Adanya proses globalisasi di semua sisi kehidupan manusia tidak akan pernah ada satupun kekuatan yang mampu mencegahnya. Hanya bangsa yang sadar budaya yang masih punya filter untuk menyaring pengaruh globalisasi yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Bangsa Indonesia punya dua sistem budaya yang sama-sama perlu dipelihara dan dikembangkan. Yaitu sistem budaya Nasional Indonesia dan sistem budaya etnik lokal. Budaya etnik lokal seringkali berfungsi sebagai sumber atau acuan penciptaan-penciptaan baru. Adanya kearifan-kearifan lokal yang membuat suatu budaya bangsa memiliki akar. Motifasi menggali kearifan lokal sebagai isu sentral secara umum adalah untuk mencari dan akhirnya jika dikehedaki menetapkan identitas bangsa yang mungkin hilang karena proses alkuturisasi dan transformasi yang telah, sedang dan akan terus terjadi sebagai sesuatu yang tak terelakan. Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara intern lewat pendidikan dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi budaya bangsa “yang lain”. Kearifan lokal yang seperti apakah yang bisa diterapkan dalam membangun pendidikan Indonesia? Inilah salah satu masalah yang harus dihadapi dunia pendidikan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar