Ilmu merupakan suatu bidang yang
bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu.
Ilmu akan selalu dicari manusia baik ilmu yang muncul dari ciptaan manusia, yaitu ilmu lahir. Ilmu lahir yaitu mengenai semua hal yang berguna untuk kebutuhan lahiriyah yang ada di dunia ini dan belum bisa untuk memenuhi kebutuhan batin seperti ketentraman dan kemuliaan bati. Dan satu lagi ilmu batin yaitu ilmu yang berhubungan dengan batin, dengan melaksanakan ajaran agama yang diyakini dan dianut atau disebut ilmu kenyataan yang mendasarkan pada Allahan, asal sungguh-sungguh dalam malaksanakan akan mendapatkan untuk bekal hidup baik lahir maupun batin.
Sebagai dasar pijakan untuk membicarakan tentang “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” akan ditampilkan cuplikan dari “Serat Wedhatama” karya dari KGPAA Mangkunegaran IV, pada “tembang pucung” yang isinya sebagai berikut :
Ilmu akan selalu dicari manusia baik ilmu yang muncul dari ciptaan manusia, yaitu ilmu lahir. Ilmu lahir yaitu mengenai semua hal yang berguna untuk kebutuhan lahiriyah yang ada di dunia ini dan belum bisa untuk memenuhi kebutuhan batin seperti ketentraman dan kemuliaan bati. Dan satu lagi ilmu batin yaitu ilmu yang berhubungan dengan batin, dengan melaksanakan ajaran agama yang diyakini dan dianut atau disebut ilmu kenyataan yang mendasarkan pada Allahan, asal sungguh-sungguh dalam malaksanakan akan mendapatkan untuk bekal hidup baik lahir maupun batin.
Sebagai dasar pijakan untuk membicarakan tentang “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” akan ditampilkan cuplikan dari “Serat Wedhatama” karya dari KGPAA Mangkunegaran IV, pada “tembang pucung” yang isinya sebagai berikut :
Pucung
Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani,
setyo budya pangekesing dur angkara.
Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani,
setyo budya pangekesing dur angkara.
Terjemahan : Ilmu itu terwujud dengan
laku, dimulai dengan kemauan, dan kemauan untuk membuat sentosa, budi
yang setia penghancur nafsu angkara.
Dengan memperhatikan cuplikan “tembang”
tersebut bisa ditelaah bahwa ilmu merupakan salah satu sarana untuk bisa
menjauhkan / menghindari hal yang tidak tahu menjadi tahu karena ilmu.
Ngelmu/ilmu dan laku merupakan sesuatu rangkaian yang mutlak. Laku
dalam hal ini selalu berusaha, sungguh-sungguh untuk memahami ilmu
tersebut. Oleh karena itu orang akan merasa tercapai keinginannya harus
tahu tentang ilmunya,tanpa tahu bisa dipastikan akan sengsara dalam
kehidupannya.
Kalau berbicara ilmu dengan pasti tidak
bisa dipisahkan dengan pendidikan, karena proses pendidikan merupakan
upaya sadar manusia yang tidak pernah ada hentinya. Sebab jika manusia
berhenti melakukan pendidikan sulit dibayangkan apa yang akan terjadi
pada sistem peradaban dan budayanya. Sejak jaman batu sampai jaman
modern, seperti saat ini, proses pendidikan manusia tetap berjalan
meskipun tidak harus terjadi dalam bentuk yang formal tapi bisa
kapanpun, suatu bangsa akhirnya membangun sebuah sistem pendidikan bagi
bangsa itu sendiri.
Sistem pendidikan yang dibangun itu
akhirnya perlu disesuaikan dengan tuntutan zamannya agar pendidikan
dapat menghasilkan out come yang relevan dengan tuntutan zaman. Oleh
karena itu sistem dan praktis pendidikan kita juga harus relevan dengan
tuntutan kualitas global. Kita sebagai bangsa telah juga memiliki sebuah
sistem pendidikan yang jelas-jelas akan memperkokoh kondisi suatu
bangsa. Persoalannya sekarang ialah apakah sistem pendidikan yang ada
saat ini efektif untuk mendidik bangsa menjadi bangsa yang modern,
mempunyai kemampuan daya saing yang tinggi ditengah-tengah bangsa lain?
Jawabannya tentu saja belum berbicara kemampuan kita sebagai bangsa,
nampaknya kita belum siap benar menghadapi persaingan global abad 21.
Adanya proses globalisasi di semua sisi
kehidupan manusia tidak akan pernah ada satupun kekuatan yang mampu
mencegahnya. Hanya bangsa yang sadar budaya yang masih punya filter
untuk menyaring pengaruh globalisasi yang tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa. Bangsa Indonesia punya dua sistem budaya yang
sama-sama perlu dipelihara dan dikembangkan. Yaitu sistem budaya
Nasional Indonesia dan sistem budaya etnik lokal. Budaya etnik lokal
seringkali berfungsi sebagai sumber atau acuan penciptaan-penciptaan
baru. Adanya kearifan-kearifan lokal yang membuat suatu budaya bangsa
memiliki akar. Motifasi menggali kearifan lokal sebagai isu sentral
secara umum adalah untuk mencari dan akhirnya jika dikehedaki menetapkan
identitas bangsa yang mungkin hilang karena proses alkuturisasi dan
transformasi yang telah, sedang dan akan terus terjadi sebagai sesuatu
yang tak terelakan. Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal
secara intern lewat pendidikan dapat dikatakan sebagai gerakan kembali
pada basis nilai budaya daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun
identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi budaya
bangsa “yang lain”. Kearifan lokal yang seperti apakah yang bisa
diterapkan dalam membangun pendidikan Indonesia? Inilah salah satu
masalah yang harus dihadapi dunia pendidikan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar