GLOBALISASI
JILBAB BAGI MAHASISWA
Oleh: Rian Apriliani
Perkembangan
zaman yang semakin pesat telah banyak menoreh perubahan signifikan di belahan
dunia. Bisa dikatakan sekarang sudah zamannya serba serbi modern. Banyak sekali
aspek yang mulai berubah menjadi lebih maju, mulai dari teknologi, transportasi,
hingga fashion juga telah berkembang pesat. Berbicara masalah fashion, banyak
kaum hawa yang mulai melirik jibab untuk kebutuhannya, selain mengenakan jilbab
untuk menutup auratnya, sesuai dengan yang diwajibkan dalam Islam. Masalah
jibab akhir-akhir ini menjadi topik pembahasan di berbaga media massa. Wacana
publik tentang jilbab seringkali berputar-putar pada pertanyaan: Apakah jilbab
sebuah ekspresi kultural Arab ataukah substansi ajaran agama; apakah jilbab
sebagai simbol kesalehan dan ketaatan seseorang terhadap otoritas agama ataukah
simbol perlawanan dan pengukuhan identitas seseorang?
Jilbab
dalam Islam merupakan representasi dari akhlak yang mulia. Namun dalam
perkembangan zaman berikutnya, era dimana unsur-unsur peradaban semakn kompleks
dan sistem kemasyarakatan pun mengarah kepada globalisasi, maka makna jilbab
pun berkembang hingga ke arah yang tak terduga. Dalam konteks sekarang selain
untuk menutup auratnya, sesuai dengan yang diwajibkan dalam islam, jilbab juga
menjadi simbol identitas diri seseorang, status sosial masyarakat, kelas sosial,
dan kekuasaan.
Pada
kenyataannya di era mendekati abad 21 ada juga fenomena lain dari jilbab yang
dapat dikategorikan sebagai suatu fenomena gaya hidup pop, fenomena yang
biasanya dikenal dengan nama ‘kerudung gaul’, atau ‘jilbab trendi’, bahkan
menjadi tren tersendiri. Perempuan yang menggunakan kerudung gaul itu pun kerap
menggunakannya ketika keluar rumah dan dikombinasikan dengan pakaian t-shirt
yang kekecilan dan menggantung sehingga memperlihatkan lekuk tubuh mereka,
serta dipadu dengan celana jeans ketat.
Dalam
masyarakat modern fashion merupakan suatu industri yang memutar faktor manusia
dan modal yang kemudian menjadikannya sebagai suatu kebutuhan industri sehingga
terbentuklah pola-pola yang berkaitan dengan perkembangan fashion. Penilaian
terhadap satu komoditi (dalam hal ini adalah busana muslimah) ditentukan oleh
pola pikir masyarakat yang berkembang pada saat itu yang dapat menular dari stu
masyarakat ke masyarakat lain melalui media sehingga mengembangbiakkan
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Hijab
sebagai busana muslimah kini mengalami deviasi dalam bentuk yang lebih halus,
dia tidak lagi dikaitkan dengan praktik takhayul yang naif, tidak pula dengan
tabu-tabu, akan tetapi dengan image atau dalam bentuk yang lebih syariat. Saat
ini, jilbab tidak terlepas dari sentuhan kapitalisme yang mengubahnya menjadi
komoditi yang bebas dkonsumsi. Misalnya dalam acara keagamaan di televisi,
setelah syarat-syarat utama sang presenter terpenuhi (cantik, terkenal,
memiliki image baik) maka kemudian dilengkapilah dengan hijab sebagai kode
acara tersebut. Pada kesempatan lain, bisa saja sang presenter tersebut tampil
di acara yang bernuansa pantai atau kolam renang dengan tuntutan bikini sebagai
kodenya. Hal ini menjadi umum karena
pakaian dalam hal ini hanya menjadi representasi konsep yang seolah dijajarkan
dalam suatu lemari yang dipilih sesuai selera pemakainya.
Berdasarkan
pengamatan yang saya lakukan di gedung program pascasarjana universitas sebelas
maret, banyak sekali mahasiswa yang mengenakan jilbab. Jika dibandingkan dengan
mahasiswa muslim yang tidak mengenakan jilbab, mahasiswa muslim yang mengenakan
jilbab lebih dominan. Namu jilbab yang mereka gunakan cenderung mengarah ke
jilbab gaul. Jilbab yang lebih fashionabel, mesti tidak sedikit pula mahasiswa
yang mengenakan jilbab syari dan sesuai dengan ketentuan Allah.
Setiap
manusia yang menggunakan hal yang sama pasti mempunyai alasan dan tujuan yang
berbeda-beda. Tidak terkecuali dalam pemakaian jilbab. Dari beberapa perempuan
yang berhasil saya wawancarai, mereka menjawab dengan jawaban yang hampir sama,
yakni menggunakan jilbab karena memakai jilbab tersebut merupakan kewajiban
yang harus muslim jalankan ketika memasuki usia balig. Namun selain sebagai kewajiban
seorang muslimah, pemakaian jilbab juga sebagai alarm diri (mengingatkan
dirinya ketika berbuat dosa), tuntutan kampus (mereka yang berasal dari kampus
berbasis agama), tuntutan orang tua (orang tua yang menginginkan anaknya
berjilbab), latihan, menghindari dari panas matahari agar tidak hitam, mendekatkan
diri kepada Allah, pemenuhan nazar, dan menjaga diri dari hal buruk. Banyak
sekali pendapat yang mendasari pemakaian jilbab tersebut, hal itu juga
mempengaruhi style mereka dalam berjilbab.
Namun
ironinya, mereka mengaku bahwa jilbab yang mereka kenakan tersebut belum sesuai
dengan yang diajarkan dan dianjurkan oleh Islam. Mereka cenderung menggunakan
jilbab gaul yang mereka rasa simple dan nyaman digunakan. Padahal mereka juga
merasa jika penggunaan jilbab gaul tersebut masih menonjolkan daya tarik
tubuhnya kepada lawan jenis. Misalnya penggunaan baju lengan panjang yang lebih
sering dilipat hingga menjadi tiga per empat lengan, atau memang sengaja
memakai t-shirt yang ketat dan tidak menutupi pantat, bahkan ada pula
yang memakai kerudung namun menampakkan poni (rambut) dan tidak menutupi bagian
payudara. Hasil pengamatan dan wawancara saya menunjukkan mayoritas mahasiswa
menggunakan kerudung yang berbahan transparan (paris) karena menurut mereka
lebih nyaman dipakai, lebih simple, dan harga kerudung tersebut relatif
terjangkau di kantong mahasiswa. Menurut mereka mengenakan style berjilbab yang
demikian tersebut karena ingin tetap menjalankan perintah agama (menutup
auratnya) namun juga sesuai kenyamanan serta ingin terlihat tetap modis dan
fashionable. Kendati demikian, menurut mereka pemakaian jilbab yang sedemikian
rupa juga telah didasari niat yang baik dan ikhlas.
Berdasarkan
pengamatan dan wawancara yang saya lakukan sehingga dapat ditarik kesimpulan,
bahwa pakaian adalah ekspresi dari suatu jalan hidup, sedangkan hijab khususnya
merupakan representasi spiritualitas. Jilbab secara historis mempunyai banyak
makna. Jilbab lebih dari sekedar cipta rasa berbusana religius. Jilbab
terkadang tampil sebagai simbol ideologis dari suatu komunitas tertentu,
menjadi fenomena dari suatu lapisan sosial, menjadi simbol kebebasan seorang
wanita. Persoalan hijab tidak lagi wajib-mubah, halal-haram, etis-tidak etis,
karena yang terpenting bagi mereka adalah kenyamanan dan terlihat fashionabel
di depan orang. Jilbab menyiaratkan simbol syarat makna dan kepentingan, namun tergantung
konteks dan siapa pemakainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar