Rabu, 17 Juni 2015

ESSAI


GLOBALISASI JILBAB BAGI MAHASISWA

Oleh: Rian Apriliani  
 Perkembangan zaman yang semakin pesat telah banyak menoreh perubahan signifikan di belahan dunia. Bisa dikatakan sekarang sudah zamannya serba serbi modern. Banyak sekali aspek yang mulai berubah menjadi lebih maju, mulai dari teknologi, transportasi, hingga fashion juga telah berkembang pesat. Berbicara masalah fashion, banyak kaum hawa yang mulai melirik jibab untuk kebutuhannya, selain mengenakan jilbab untuk menutup auratnya, sesuai dengan yang diwajibkan dalam Islam. Masalah jibab akhir-akhir ini menjadi topik pembahasan di berbaga media massa. Wacana publik tentang jilbab seringkali berputar-putar pada pertanyaan: Apakah jilbab sebuah ekspresi kultural Arab ataukah substansi ajaran agama; apakah jilbab sebagai simbol kesalehan dan ketaatan seseorang terhadap otoritas agama ataukah simbol perlawanan dan pengukuhan identitas seseorang?
Jilbab dalam Islam merupakan representasi dari akhlak yang mulia. Namun dalam perkembangan zaman berikutnya, era dimana unsur-unsur peradaban semakn kompleks dan sistem kemasyarakatan pun mengarah kepada globalisasi, maka makna jilbab pun berkembang hingga ke arah yang tak terduga. Dalam konteks sekarang selain untuk menutup auratnya, sesuai dengan yang diwajibkan dalam islam, jilbab juga menjadi simbol identitas diri seseorang, status sosial masyarakat, kelas sosial, dan kekuasaan.
Pada kenyataannya di era mendekati abad 21 ada juga fenomena lain dari jilbab yang dapat dikategorikan sebagai suatu fenomena gaya hidup pop, fenomena yang biasanya dikenal dengan nama ‘kerudung gaul’, atau ‘jilbab trendi’, bahkan menjadi tren tersendiri. Perempuan yang menggunakan kerudung gaul itu pun kerap menggunakannya ketika keluar rumah dan dikombinasikan dengan pakaian t-shirt yang kekecilan dan menggantung sehingga memperlihatkan lekuk tubuh mereka, serta dipadu dengan celana jeans ketat.
Dalam masyarakat modern fashion merupakan suatu industri yang memutar faktor manusia dan modal yang kemudian menjadikannya sebagai suatu kebutuhan industri sehingga terbentuklah pola-pola yang berkaitan dengan perkembangan fashion. Penilaian terhadap satu komoditi (dalam hal ini adalah busana muslimah) ditentukan oleh pola pikir masyarakat yang berkembang pada saat itu yang dapat menular dari stu masyarakat ke masyarakat lain melalui media sehingga mengembangbiakkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Hijab sebagai busana muslimah kini mengalami deviasi dalam bentuk yang lebih halus, dia tidak lagi dikaitkan dengan praktik takhayul yang naif, tidak pula dengan tabu-tabu, akan tetapi dengan image atau dalam bentuk yang lebih syariat. Saat ini, jilbab tidak terlepas dari sentuhan kapitalisme yang mengubahnya menjadi komoditi yang bebas dkonsumsi. Misalnya dalam acara keagamaan di televisi, setelah syarat-syarat utama sang presenter terpenuhi (cantik, terkenal, memiliki image baik) maka kemudian dilengkapilah dengan hijab sebagai kode acara tersebut. Pada kesempatan lain, bisa saja sang presenter tersebut tampil di acara yang bernuansa pantai atau kolam renang dengan tuntutan bikini sebagai kodenya.  Hal ini menjadi umum karena pakaian dalam hal ini hanya menjadi representasi konsep yang seolah dijajarkan dalam suatu lemari yang dipilih sesuai selera pemakainya.
Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan di gedung program pascasarjana universitas sebelas maret, banyak sekali mahasiswa yang mengenakan jilbab. Jika dibandingkan dengan mahasiswa muslim yang tidak mengenakan jilbab, mahasiswa muslim yang mengenakan jilbab lebih dominan. Namu jilbab yang mereka gunakan cenderung mengarah ke jilbab gaul. Jilbab yang lebih fashionabel, mesti tidak sedikit pula mahasiswa yang mengenakan jilbab syari dan sesuai dengan ketentuan Allah.
Setiap manusia yang menggunakan hal yang sama pasti mempunyai alasan dan tujuan yang berbeda-beda. Tidak terkecuali dalam pemakaian jilbab. Dari beberapa perempuan yang berhasil saya wawancarai, mereka menjawab dengan jawaban yang hampir sama, yakni menggunakan jilbab karena memakai jilbab tersebut merupakan kewajiban yang harus muslim jalankan ketika memasuki usia balig. Namun selain sebagai kewajiban seorang muslimah, pemakaian jilbab juga sebagai alarm diri (mengingatkan dirinya ketika berbuat dosa), tuntutan kampus (mereka yang berasal dari kampus berbasis agama), tuntutan orang tua (orang tua yang menginginkan anaknya berjilbab), latihan, menghindari dari panas matahari agar tidak hitam, mendekatkan diri kepada Allah, pemenuhan nazar, dan menjaga diri dari hal buruk. Banyak sekali pendapat yang mendasari pemakaian jilbab tersebut, hal itu juga mempengaruhi style mereka dalam berjilbab.
Namun ironinya, mereka mengaku bahwa jilbab yang mereka kenakan tersebut belum sesuai dengan yang diajarkan dan dianjurkan oleh Islam. Mereka cenderung menggunakan jilbab gaul yang mereka rasa simple dan nyaman digunakan. Padahal mereka juga merasa jika penggunaan jilbab gaul tersebut masih menonjolkan daya tarik tubuhnya kepada lawan jenis. Misalnya penggunaan baju lengan panjang yang lebih sering dilipat hingga menjadi tiga per empat lengan, atau memang sengaja memakai t-shirt yang ketat dan tidak menutupi pantat, bahkan ada pula yang memakai kerudung namun menampakkan poni (rambut) dan tidak menutupi bagian payudara. Hasil pengamatan dan wawancara saya menunjukkan mayoritas mahasiswa menggunakan kerudung yang berbahan transparan (paris) karena menurut mereka lebih nyaman dipakai, lebih simple, dan harga kerudung tersebut relatif terjangkau di kantong mahasiswa. Menurut mereka mengenakan style berjilbab yang demikian tersebut karena ingin tetap menjalankan perintah agama (menutup auratnya) namun juga sesuai kenyamanan serta ingin terlihat tetap modis dan fashionable. Kendati demikian, menurut mereka pemakaian jilbab yang sedemikian rupa juga telah didasari niat yang baik dan ikhlas.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang saya lakukan sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa pakaian adalah ekspresi dari suatu jalan hidup, sedangkan hijab khususnya merupakan representasi spiritualitas. Jilbab secara historis mempunyai banyak makna. Jilbab lebih dari sekedar cipta rasa berbusana religius. Jilbab terkadang tampil sebagai simbol ideologis dari suatu komunitas tertentu, menjadi fenomena dari suatu lapisan sosial, menjadi simbol kebebasan seorang wanita. Persoalan hijab tidak lagi wajib-mubah, halal-haram, etis-tidak etis, karena yang terpenting bagi mereka adalah kenyamanan dan terlihat fashionabel di depan orang. Jilbab menyiaratkan simbol syarat makna dan kepentingan, namun tergantung konteks dan siapa pemakainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar