Rabu, 17 Juni 2015

sosiolinguistik


  Slang sebagai Variasi Sosial di Kalangan Mahasiswa

Oleh: Rian Apriliani
 
Pendahuluan
Bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam proses kehidupan manusia, karena bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama manusia. Chaer (2003:53) berpendapat bahwa bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai dengan bahasa. Karena keterkaitan antara manusia dan bahasa itu, sedangkan dalam kehidupan di dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah-ubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, tidak tetap, tidak statis. Oleh karena bahasa bersifat dinamis, maka bahasa menjadi beragam dan bervariasi.
Belakangan ini pengguaan bahasa Indonesia baik dalam kehidupan nyata maupun kehidupan fiksi, sudah mulai mengalami interverensi dan mulai bergeser digantikan oleh penggunaan bahasa slang (bahasa slang bisa berupa bahasa gaul, bahasa prokem, atau bahasa walikan). Bahasa slang merupakan variasi bahasa yang bercirikan kosakata yang baru dan cepat berubah. Penggunaan bahasa slang di kalangan mahasiswa yang semakin tinggi intensitasnya membuat kosa kata dalam bahasa slang semakin bertambah dan rumusan pembentukannya pun menjadi tidak tetap.
Banyak mahasiswa yang menggunakan bahasa slang dalam percakapan sehari-hari. Bahkan bisa dikatakan pembendaharaan kata mereka lebih banyak menggunakan bahasa slang agar keakraban antar mahasiswa terlihat lebih intim. Mengingat semakin berkembangnya arus komunikasi, maka mahasiswa telah mengesahkan pemakaian bahasa slang di setiap situasi dan tidak memperhatikan keadaan dengan siapa dan dimana mereka menggunakan bahasa tersebut.
Saat ini bahasa slang  menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial. Terkadang melihat fenomena seperti ini seolah dapat dikatakan bahwa bahasa slang telah menjadi bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, terkecuali untuk kebutuhan formal. Karenanya akan menjadi terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia formal jika sudah terbiasa menggunakan bahasa slang tersebut.

Pembahasan
Spolsky (1998:35) mengungkapkan bahwa the importance of language in establishing social identity is also shown in the case of slang. One way to characterize slang is as special kinds of “intimate” or in-group speech. Slang is kind of jargon marked by its rejection of formal rules, its comparative freshness and its commond ephermerality, and its marked use to claim solidarity. Pendapat Spolsky mengisyaratkan pentingnya bahasa dalam membangun identitas sosial juga ditunjukkan dalam kasus slang. Salah satu karakteristik slang adalah jenis khusus dari “bahasa intim” atau dalam ujaran kelompok. Slang adalah semacam jargon yang ditandai dengan penolakan terhadap aturan formal, berhubungan dengan kebaruan, dan berlangsung secara singkat serta penggunaannya ditandai untuk mengklain solidaritas.
 Sedangkan Chaer (2004:5) mengemukakan bahwa Slang ialah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui kalangan diluar kelompok itu. Oleh karena itu, kosakata yang digunakan dalam slang berubah-ubah. Slang lebih merupakan gramatika, bersifat temporal dan lebih umum digunakan oleh kaula muda. Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim dipakai di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda dari makna sebenarnya.
Slang berada di bawah pengaruh linguistik produktif dari sikap-sikap macam tertentu. Slang selalu digunakan sesuka penuturnya. Slang ini merupakan permainan sosial, dan terutama merupakan bahasa lisan (Suhardi, 1995: 164-168). Sebagai permainan sosial slang merupakan hasil kreativitas kelompok-kelompok anak muda dalam masyarakat tertentu. Sebagai bahasa lisan, slang tidak banyak diingat, meski oleh pemakainya sendiri, setelah bahasa itu tidak digunakan lagi.
Dalam kesehariaannya sebagai seorang mahasiswa, seringkali bahasa slang menjadi bahasa utama. Bahasa seperti ini memang mampu menimbulkan perasaan akrab terhadap lawan bicara. Seolah tidak ada tingkatan status antara komunikator dan komunikannya. Hal ini seperti yang diungkapan oleh Swan (2005:526) ‘slang’ is a very informal kind of vocabulary, used mostly in speech by people who know each other well. Melihat definisi dari Swan tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa slang adalah jenis kosakata yang sangat informal, yang biasanya digunakan dalam percakapan oleh orang yang saling mengenal dengan baik. Sehingga banyak sekali muncul bahasa slang di kalangan mahasiswa, mengingat hubungan kedekatan antar mahasiswa yang sudah terjalin dengan baik. Di dalam satu komunitas, mahasiswa tersebut berasal dari latar belakang dan daerah yang berbeda dengan dialek daerah masing-masing, seperti Yogya dengan basa bagongan dagadu; Semarang dengan basa walikan kasnya; Solo dengan pecas ndahe; Malang dengan osob kiwalan; bahasa walikan Tegal.
 Bahasa prokem atau bahasa gaul dan bahasa walikan ini juga kerap digunakan oleh mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret dalam berkomunikasi sehari-hari. Misalnya saja pada pernyataan:
“Yang lain mohon bantuannya jawab pertanyaan sam Ulin. Ayas tiba-tiba mengalami turbulensi otak”.
Oyi, ayas yo maleh kelingan ebes emes ing hamur”.

Dalam pernyataan di atas penutur menggunakan boso (bahasa) walikan atau yang kerap disebut osob kiwalan. Rumus osob kiwalan adalah membaca satu kata secara terbalik, yaitu dari belakang menuju ke depan ataupun dari arah kanan menuju kiri.  Seperti pada percanyataan di atas kata sam untuk menggantikan kata mas, ayas untuk menggantikan kata saya, oyi untuk menggantikan kata iyo (iya), ebes untuk menggantikan kata bapak, emes untuk menggantikan kata ibu, dan hamur untuk menggantikan rumah yang masing-masing kata diucapkan dengan cara dibalik. Selain menggunakan kata di atas, mahasiswa juga kerap menggunakan kata “ladub” untuk menggantikan kata budal (berangkat), “ngarabmes” untuk menggantikan kata sembarang (terserah), “kipa” untuk menggantikan kata apik (bagus), “umak” untuk menggantikan kata kamu, “nawak” untuk menggantikan kata kawan, “kap” untuk menggantikan kata pak, “woles” untuk menggantikan kata selow (sabar/pelan).
Berdasarkan pengamatan saya, walaupun osob kiwalan (boso walikan Malang) ini mulanya hanya digunakan oleh sebagian mahasiswa (yang notabennya berasal dari Malang) ternyata juga berperan dalam menambah pembendaharaan kata bahasa gaul mahasiswa yang buka berasal dari Malang. Misalnya dalam pernyataan berikut;
“Oyi Bu, nuwus ya”.

Percanyataan di atas menggunakan boso walikan “nuwus” untuk menggantikan kata suwun (terima kasih). Hal ini berarti mahasiswa yang bukan berasal dari Malang mulai menggunakan boso walikan untuk menggantikan semua kata yang digunakan untuk berkomunikasi. Terlihat pada kata suwun yang notabennya merupakan bahasa jawa Solo pun ikut dibalik dalam pengucapannya. Padahal pada hakikatnya boso walikan tersebut bukan berarti kata-kata baru bisa ditambahkan atau dimunculkan dengan seenaknya. Kata-kata tersebut juga muncul dari tradisi atau kata-kata yang umum di ucapkan dalam pergaulan. Bagaimanapun juga asal mula munculnya kosakata walikan yang baru masih tetap sama, kata walikan harus enak di ucapkan dan diterima oleh masyarakat sebagai bahasa pergaulan.
Selain menggunakan bahasa walikan (osob kiwalan Malang), mahasiswa juga kerap menggunakan bahasa gaul atau bahasa prokem. Kosakata bahasa gaul di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam pada dan tergantung kreatifitas pemakainya. Penggunaan kata gaul “gaes”, “cuy/coy”, “cint”, “say” “bray” untuk mengganti kata sapaan kepada teman yang dianggap sudah sangat akrab menjadi hal biasa di kalangan mahasiswa. Misalnya pada pernyataan:
Ntar tak cariin jadwal mainnya dulu, Gaes”.
“Prof. Anda uda masuk, Beb
Kata gaes dan beb merupakan bahasa gaul pengganti kata sapaan atau pengganti nama orang yang dimaksud agar terkesan akrab. Sedangkan ntar, tak, uda, dan cariin merupakan kata gaul yang sering digunakan mahasiswa untuk berkomunikasi. Selain “tak/ndak” untuk menggantikan tidak, “ntar” untuk menggantikan kata sebentar, “cariin” untuk menggantikan kata carikan, “uda/dah” untuk menggantikan sudah, kata yang kerap digunakan adalah  “aja” untuk menggantikan saja, “isa” untuk menggantikan bisa, “tul” untuk menggantikan kata betul, “yak/yup” untuk menggantikan “iya”, “yaudah” untuk menggantikan iya sudah, “gimana” untuk menggantikan bagaimana. Bahasa gaul akan cepat berkembang dikalangan remaja, karena bahasa gaul pada umunya digunakan sebagaai sarana komunikasi diantara remaja sekelompoknya.
Ketika seorang remaja sudah mengetahui satu bahasa gaul atau prokem yang menurut mereka itu masih asing, pasti mereka akan gunakan bahasa tersebut dalam percakapan mereka sehari-hari. Pada saat mereka bertemu dan berkumpul dengan teman sebaya mereka, pasti mereka akan menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan mereka. Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian bahasa pergaulan anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non formal yang terutama di gunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu. Bahasa prokem pada mahasiswa terlihat pada pernyataan berikut;
“Itu namanya suami istri sesusah sebahagia bersama. Endes”.
“Susana paling kece”.
Beb, bukunya di ekek yang merah tedong”.

Kata endes, kece, ekek, tedong merupakan bahasa prokem yang berarti sedap (endes), keren (kece), aku (ekek), tadi (tedong). Sedangkan beb merupakan bahasa gaul untuk menggantikan sapaan kepada orang lain agar terkesan lebih akrab.
Sah-sah saja mahasiswa dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa slang. Namun bahasa slang tersebut akan menjadi suatu masalah ketika mahasiswa tidak mampu menempatkan penggunaannya. Seringkali bahasa ini mereka gunakan ketika berbicara dengan dosen ataupun staf kampus. Mungkin mahasiswa ingin dianggap “gaul” dengan berbicara dengan menggunakan bahasa yang sedang banyak diperggunakan, namun hal tersebut berarti mereka belum mampu menempatkan penggunaannya. Sehingga muncul anggapan bahwa sedekat apapun hubungan antara dosen dan mahasiswanya, bahasa dalam percakapan tetaplah menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.



Kesimpulan
Kehadiran bahasa slang dalam pergaulan sosial di negeri ini sepertinya tidak makin meyurut tetapi justru makin meluas. Ruang-ruang publik makin kuyup dengan idiom-idiom bahasa slang. Bahasa slang saat ini telah menyebar kemana-mana. Penggunanya tidak hanya kalangan remaja perkotaan tetapi juga telah merambah ke daerah-daerah pinggiran dan pedesaan akibat mobilitas urbanisasi yang kian sulit terkendali. Dampak kehadiran bahasa slang tesebut telah merambah dalam pergaulan mahasiswa. Mahasiswa saat ini banyak yang menggunakan bahasa slang dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa dikatakan mereka merasa lebih nyaman memakai bahasa slang dari pada bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Hal tersebut dikarenakan bahasa slang memunculkan perasaan akrab terhadap lawan bicara. Seolah tidak ada tingkatan status antara komunikator dan komunikannya. Penggunaan bahasa dalam komunikasi memang bersifat arbitrer dan manasuka. Maraknya penggunaan bahasa gaul dalam konteks komunikasi kekinian bisa dipahami sebagai ekspresi kaum remaja yang bersifat pragmatis untuk menciptakan situasi pergaulan yang lebih cair dan akrab. Namun alangkah baiknya jika mahasiswa mampu menempatkan kapan dan dimana  bahasa slang tersebut harus digunakan.

Daftar Bacaan
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Spolsky, Bernand. 1998. Sosiolinguistics. Oxford:Oxford University Press.
Suhardi, Basuki. 1995. Teori dan Metode Sosiolinguistik. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Swan, Michael. 2005. Practical English Usage. Oxford:Oxford University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar