Slang sebagai
Variasi Sosial di Kalangan Mahasiswa
Oleh: Rian Apriliani
Pendahuluan
Bahasa
memegang peranan yang sangat penting dalam proses kehidupan manusia, karena
bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama
manusia. Chaer (2003:53) berpendapat bahwa bahasa adalah satu-satunya milik
manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia
sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan
bermasyarakat. Tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai dengan bahasa.
Karena keterkaitan antara manusia dan bahasa itu, sedangkan dalam kehidupan di
dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah-ubah, maka
bahasa itu juga menjadi ikut berubah, tidak tetap, tidak statis. Oleh karena
bahasa bersifat dinamis, maka bahasa menjadi beragam dan bervariasi.
Belakangan
ini pengguaan bahasa Indonesia baik dalam kehidupan nyata maupun kehidupan
fiksi, sudah mulai mengalami interverensi dan mulai bergeser digantikan oleh
penggunaan bahasa slang (bahasa slang bisa berupa bahasa gaul, bahasa prokem,
atau bahasa walikan). Bahasa slang merupakan variasi bahasa yang bercirikan
kosakata yang baru dan cepat berubah. Penggunaan bahasa slang di kalangan
mahasiswa yang semakin tinggi intensitasnya membuat kosa kata dalam bahasa
slang semakin bertambah dan rumusan pembentukannya pun menjadi tidak tetap.
Banyak
mahasiswa yang menggunakan bahasa slang dalam percakapan sehari-hari. Bahkan
bisa dikatakan pembendaharaan kata mereka lebih banyak menggunakan bahasa slang
agar keakraban antar mahasiswa terlihat lebih intim. Mengingat semakin
berkembangnya arus komunikasi, maka mahasiswa telah mengesahkan pemakaian
bahasa slang di setiap situasi dan tidak memperhatikan keadaan dengan siapa dan
dimana mereka menggunakan bahasa tersebut.
Saat
ini bahasa slang menjadi umum digunakan
sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial.
Terkadang melihat fenomena seperti ini seolah dapat dikatakan bahwa bahasa
slang telah menjadi bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh
setiap mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, terkecuali untuk kebutuhan
formal. Karenanya akan menjadi terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal
dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia formal jika sudah terbiasa
menggunakan bahasa slang tersebut.
Pembahasan
Spolsky
(1998:35) mengungkapkan bahwa the importance of language in establishing
social identity is also shown in the case of slang. One way to characterize
slang is as special kinds of “intimate” or in-group speech. Slang is kind of
jargon marked by its rejection of formal rules, its comparative freshness and
its commond ephermerality, and its marked use to claim solidarity. Pendapat
Spolsky mengisyaratkan pentingnya bahasa dalam membangun identitas sosial juga
ditunjukkan dalam kasus slang. Salah satu karakteristik slang adalah jenis
khusus dari “bahasa intim” atau dalam ujaran kelompok. Slang adalah semacam
jargon yang ditandai dengan penolakan terhadap aturan formal, berhubungan dengan
kebaruan, dan berlangsung secara singkat serta penggunaannya ditandai untuk
mengklain solidaritas.
Sedangkan
Chaer (2004:5) mengemukakan bahwa Slang ialah variasi sosial yang bersifat
khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang
sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui kalangan diluar kelompok itu. Oleh
karena itu, kosakata yang digunakan dalam slang berubah-ubah. Slang lebih
merupakan gramatika, bersifat temporal dan lebih umum digunakan oleh kaula
muda. Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa
pemendekan kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau kosakata yang serba
baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata
bunyi, kosakata yang lazim dipakai di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada
yang berbeda dari makna sebenarnya.
Slang
berada di bawah pengaruh linguistik produktif dari sikap-sikap macam tertentu.
Slang selalu digunakan sesuka penuturnya. Slang ini merupakan permainan sosial,
dan terutama merupakan bahasa lisan (Suhardi, 1995: 164-168). Sebagai permainan
sosial slang merupakan hasil kreativitas kelompok-kelompok anak muda dalam
masyarakat tertentu. Sebagai bahasa lisan, slang tidak banyak diingat, meski
oleh pemakainya sendiri, setelah bahasa itu tidak digunakan lagi.
Dalam
kesehariaannya sebagai seorang mahasiswa, seringkali bahasa slang menjadi
bahasa utama. Bahasa seperti ini memang mampu menimbulkan perasaan akrab
terhadap lawan bicara. Seolah tidak ada tingkatan status antara komunikator dan
komunikannya. Hal ini seperti yang diungkapan oleh Swan (2005:526) ‘slang’
is a very informal kind of vocabulary, used mostly in speech by people who know
each other well. Melihat definisi dari Swan tersebut dapat disimpulkan
bahwa bahasa slang adalah jenis kosakata yang sangat informal, yang biasanya
digunakan dalam percakapan oleh orang yang saling mengenal dengan baik.
Sehingga banyak sekali muncul bahasa slang di kalangan mahasiswa, mengingat hubungan
kedekatan antar mahasiswa yang sudah terjalin dengan baik. Di dalam satu
komunitas, mahasiswa tersebut berasal dari latar belakang dan daerah yang
berbeda dengan dialek daerah masing-masing, seperti Yogya
dengan basa bagongan dagadu; Semarang dengan basa walikan kasnya;
Solo
dengan pecas ndahe; Malang dengan osob kiwalan; bahasa
walikan Tegal.
Bahasa prokem atau bahasa gaul dan bahasa
walikan ini juga kerap digunakan oleh mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa
Indonesia Universitas Sebelas Maret dalam berkomunikasi sehari-hari. Misalnya
saja pada pernyataan:
“Yang
lain mohon bantuannya jawab pertanyaan sam Ulin. Ayas tiba-tiba
mengalami turbulensi otak”.
“Oyi,
ayas yo maleh kelingan ebes emes ing hamur”.
Dalam
pernyataan di atas penutur menggunakan boso (bahasa) walikan atau yang kerap
disebut osob
kiwalan. Rumus osob kiwalan adalah membaca satu
kata secara terbalik, yaitu dari belakang menuju ke depan ataupun dari arah
kanan menuju kiri. Seperti pada
percanyataan di atas kata sam untuk menggantikan kata mas, ayas untuk
menggantikan kata saya, oyi untuk menggantikan kata iyo (iya), ebes
untuk menggantikan kata bapak, emes untuk menggantikan kata ibu, dan hamur
untuk menggantikan rumah yang masing-masing kata diucapkan dengan cara dibalik.
Selain menggunakan kata di atas, mahasiswa juga kerap menggunakan kata “ladub”
untuk menggantikan kata budal (berangkat), “ngarabmes” untuk menggantikan kata
sembarang (terserah), “kipa” untuk menggantikan kata apik (bagus), “umak” untuk
menggantikan kata kamu, “nawak” untuk menggantikan kata kawan, “kap” untuk
menggantikan kata pak, “woles” untuk menggantikan kata selow (sabar/pelan).
Berdasarkan
pengamatan saya, walaupun osob kiwalan (boso walikan Malang) ini mulanya hanya
digunakan oleh sebagian mahasiswa (yang notabennya berasal dari Malang) ternyata
juga berperan dalam menambah pembendaharaan kata bahasa gaul mahasiswa yang
buka berasal dari Malang. Misalnya dalam pernyataan berikut;
“Oyi Bu,
nuwus ya”.
Percanyataan
di atas menggunakan boso walikan “nuwus” untuk menggantikan kata suwun (terima
kasih). Hal ini berarti mahasiswa yang bukan berasal dari Malang mulai
menggunakan boso walikan untuk menggantikan semua kata yang digunakan untuk
berkomunikasi. Terlihat pada kata suwun yang notabennya
merupakan bahasa jawa Solo pun ikut dibalik dalam pengucapannya. Padahal
pada hakikatnya boso walikan tersebut bukan berarti kata-kata baru bisa
ditambahkan atau dimunculkan dengan seenaknya. Kata-kata tersebut juga muncul
dari tradisi atau kata-kata yang umum di ucapkan dalam pergaulan. Bagaimanapun
juga asal mula munculnya kosakata walikan yang baru masih tetap sama, kata walikan
harus enak di ucapkan dan diterima oleh masyarakat sebagai bahasa pergaulan.
Selain
menggunakan bahasa walikan (osob kiwalan Malang), mahasiswa
juga kerap menggunakan bahasa gaul atau bahasa prokem. Kosakata bahasa gaul di
Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja
tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam pada dan tergantung
kreatifitas pemakainya. Penggunaan kata gaul “gaes”, “cuy/coy”, “cint”, “say”
“bray” untuk mengganti kata sapaan kepada teman yang dianggap sudah sangat
akrab menjadi hal biasa di kalangan mahasiswa. Misalnya pada pernyataan:
“Ntar tak
cariin jadwal mainnya dulu, Gaes”.
“Prof. Anda uda
masuk, Beb”
Kata
gaes dan beb merupakan bahasa gaul pengganti kata sapaan atau
pengganti nama orang yang dimaksud agar terkesan akrab. Sedangkan ntar, tak,
uda, dan cariin merupakan kata gaul yang sering digunakan mahasiswa
untuk berkomunikasi. Selain “tak/ndak” untuk menggantikan tidak, “ntar” untuk
menggantikan kata sebentar, “cariin” untuk menggantikan kata carikan, “uda/dah”
untuk menggantikan sudah, kata yang kerap digunakan adalah “aja” untuk menggantikan saja, “isa” untuk
menggantikan bisa, “tul” untuk menggantikan kata betul, “yak/yup” untuk
menggantikan “iya”, “yaudah” untuk menggantikan iya sudah, “gimana” untuk
menggantikan bagaimana. Bahasa gaul akan cepat berkembang dikalangan remaja,
karena bahasa gaul pada umunya digunakan sebagaai sarana komunikasi diantara
remaja sekelompoknya.
Ketika
seorang remaja sudah mengetahui satu bahasa gaul atau prokem yang menurut
mereka itu masih asing, pasti mereka akan gunakan bahasa tersebut dalam
percakapan mereka sehari-hari. Pada saat
mereka bertemu dan berkumpul dengan teman sebaya mereka, pasti mereka akan
menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan mereka. Belakangan ini bahasa
prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan
anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian bahasa pergaulan anak remaja ini
merupakan dialek bahasa Indonesia non formal yang terutama di gunakan di suatu
daerah atau komunitas tertentu. Bahasa prokem pada mahasiswa terlihat pada
pernyataan berikut;
“Itu namanya
suami istri sesusah sebahagia bersama. Endes”.
“Susana paling kece”.
“Beb,
bukunya di ekek yang merah tedong”.
Kata
endes, kece, ekek, tedong merupakan bahasa prokem yang berarti sedap
(endes), keren (kece), aku (ekek), tadi (tedong). Sedangkan beb
merupakan bahasa gaul untuk menggantikan sapaan kepada orang lain agar terkesan
lebih akrab.
Sah-sah
saja mahasiswa dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa slang. Namun
bahasa slang tersebut akan menjadi suatu masalah ketika mahasiswa tidak mampu
menempatkan penggunaannya. Seringkali bahasa ini mereka gunakan ketika
berbicara dengan dosen ataupun staf kampus. Mungkin mahasiswa ingin dianggap
“gaul” dengan berbicara dengan menggunakan bahasa yang sedang banyak
diperggunakan, namun hal tersebut berarti mereka belum mampu menempatkan
penggunaannya. Sehingga muncul anggapan bahwa sedekat apapun hubungan antara
dosen dan mahasiswanya, bahasa dalam percakapan tetaplah menjadi sesuatu yang
harus diperhatikan.
Kesimpulan
Kehadiran
bahasa slang dalam pergaulan sosial di negeri ini sepertinya tidak makin
meyurut tetapi justru makin meluas. Ruang-ruang publik makin kuyup dengan
idiom-idiom bahasa slang. Bahasa slang saat ini telah menyebar kemana-mana.
Penggunanya tidak hanya kalangan remaja perkotaan tetapi juga telah merambah ke
daerah-daerah pinggiran dan pedesaan akibat mobilitas urbanisasi yang kian
sulit terkendali. Dampak kehadiran bahasa slang tesebut telah merambah dalam
pergaulan mahasiswa. Mahasiswa saat ini banyak yang menggunakan bahasa slang
dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa dikatakan mereka merasa lebih nyaman
memakai bahasa slang dari pada bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan
lawan bicaranya. Hal tersebut dikarenakan bahasa slang memunculkan perasaan
akrab terhadap lawan bicara. Seolah tidak ada tingkatan status antara
komunikator dan komunikannya. Penggunaan bahasa dalam komunikasi memang
bersifat arbitrer dan manasuka. Maraknya penggunaan bahasa gaul dalam konteks
komunikasi kekinian bisa dipahami sebagai ekspresi kaum remaja yang bersifat
pragmatis untuk menciptakan situasi pergaulan yang lebih cair dan akrab. Namun
alangkah baiknya jika mahasiswa mampu menempatkan kapan dan dimana bahasa slang tersebut harus digunakan.
Daftar Bacaan
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie.
2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik
Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Spolsky, Bernand. 1998. Sosiolinguistics.
Oxford:Oxford University Press.
Suhardi, Basuki. 1995. Teori dan
Metode Sosiolinguistik. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.
Swan, Michael. 2005. Practical
English Usage. Oxford:Oxford University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar